Di Telaga Itu Rasul Menanti

  • Posted on: 24 February 2017
  • By: kontributor tkit1

Cinta itu terus mengalir. Penuh dengan warna kehidupan. Tak lekang dengan waktu. Tak terpisahkan dengan jarak. Cintanya tak bertepi. Cinta itu abadi di dunia hingga akhirat. Itulah cinta manusia mulia, penutup segala  Rasul yakni Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw sosok manusia teladan dalam kehidupan. Cintanya telah membawa beliau menaklukkan kerasnya hati para penyembah berhala. Cinta itu selalu membawa kesejukan dan kedamaian. Cinta itu selalu membuat orang terdekatnya ingin selalu bersamanya. Membuat para musuhnya  pun enggan padannya.  Bahkan alam senantiasa bertasbih bersamanya.

Detik-detik berakhirnya kehidupan beliau. Dalam kelemahan dan sakitnya sakratul maut, Rasul Muhammad saw masih menunjukkan kecintaannya pada ummatnya.

 Rasulullah saw bertanya kepada Jibril, “ Apa hakku di hadapan Allah?” Jibril menjawab : “ Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti kedatangan ruhmu.” Namun kabar bahagia itu  tak sedikit pun membuatnya tenang. Manusia mulia itu pun kembali bertanya kepada Jibril “ Kabarkan kepadaku bagaimana nasib ummatku kelak?” Jibril kemudian menjawab “ Sesungguhnya telah Allah larang seluruh umat masuk ke dalam surga sebelum ummatmu masuk terlebih dahulu”. 

Wajah teduh itupun baru tersenyum. Itulah wujud cinta sucinya. Kematian tak merubah rasa cintanya. Malaikat Izrail dipersilahkan melaksanakan tugasnya.  Dengan penuh cinta dan kelembutan ruh sang Rasul dicabut dari raganya.

 Setelah dua puluh tiga tahun mengemban risalah kenabian, sang utusan pun kembali kepada sumber Pemilik Cinta  Allah azza wajalla. Tubuh yang senantiasa tegak dalam keheningan malam bersujud dalam mihrab cintanya kini tergelatak lemah. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Pelepah kurma sebagai alas tidur sang Rasul pun basah. Tongkat setia penopang tubuh Rasulullah saw ikut bergetar menyaksikan perginya sang utusan.

 Di telinga sang menantu sekaligus sahabat terkasihnya beliau berucap lirih “ummati…ummati…ummati, ummatku…ummatku…ummatku”. 

Cinta itu tak terputus. Akhir kehidupan Rasulullah adalah potret cinta yang berlanjut. Bukan nama Aisyah ra istri tercinta yang terucap, bukan Fatimah Az-Zahra anak tersayang yang dicari, bukan sahabat terdekat yang dihawatirkan, tapi ummatnya yang tidak pernah beliau lihat. Ummatnya yang tidak pernah bertatap langsung dengan wajah mulia itulah yang selalu dirindukan. Allahummasholli ‘ala Muhammad wa’ala ali muhammad.

Cinta suci sang Rasul tak berakhir di dunia saja. Di alam akhirat cinta itu tetap tumbuh subur. Di padang mahsyar yang dahsyat. Ketika manusia digiring para malaikat dengan kasar tanpa busana. Ketika mentari hanya sehasta dari kepala. Ketika manusia kebingungan dan dipenuhi ketakutan. Ketika peluh mulai menenggelamkan tubuh. Ketika catatan amal Allah pertontonkan dan rasa haus mencekik di tenggorokan. Sang rasul kekasih Pemilik Hari Pembalasan menanti dengan senyum mengembang kedatangan para ummatnya di telaga kehidupan.

Ya di telaga itu Rasul menanti. Telaga yang airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Telaga yang dijaga tujuh puluh ribu malaikat. Telaga yang luasnnya sebulan perjalan. Telaga yang cangkir-cangkirnya berkilauan bak bintang. Telaga yang seteguk airnya takkan pernah membuat haus selamanya. Itulah telaga Kautsar yang diciptakan Allah swt untuk kekasih-Nya Rasulullah Muhammad saw. 

Di telaga Kautsar, manusia berbondong-bondong datang. Setiap manusia yang datang dengan kilauan cahaya di dahi dan betisnya, Rasulullah saw senantiasa tersenyum bahagia menyambut kedatangannya. Malaikat pun melayani dengan cangkir-cangkir yang menyilaukan mata. Namun wajah itu bersedih melihat sekelompok manusia dihalau para malaikat untuk tidak mendekati telaga Kautsar.

“ Wahai para malaikat, sesungguhnya dia adalah sahabatku. Dia adalah ummatku. Biarkanlah mereka minum dari telaga ini”. 

“ Wahai Rasul, memang benar mereka adalah sahabat dan ummatmu. Tapi engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”.

Telaga Kautsar bukti kesinambungan cinta Rasulullah saw. Sejak ikrar sebagai utusan, cinta itu tertanam kuat dalam sanubarinya. Tak sedikitpun dirinya menginginkan kesusahan dan kehinaan untuk ummatnya. 

Jika cinta sang Rasul begitu besar, sudahkah kita yang mengaku sebagai ummat Rasulullah membalasnya. Semestinya sebagai ummatnya, kita menjawab dan menyambut uluran cinta itu dengan cinta pula. Cinta dengan senantiasa meneladaninya. Cinta yang dibuktikan dengan mengikuti sunnah-sunnahnya. Cinta yang senantiasa mengikuti jejak perjuangannya. Cinta yang langkah-langkah kaki ini senantiasa membawa samudera kebaikan. Cinta yang senantiasa lisan ini bershalawat padanya. Allahummasholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali muhammad. 

Namun cinta itu sering berbalas dengan keingkaran. Cinta itu berbalas dengan pengingkaran sunnahnya. Cinta itu berbalas dengan menghina keluarga dan sahabat setianya. Cinta itu berbalas dengan kemalasan menyebut namanya. Cinta itu berbalas dengan cacian dan hinaan. Astaghfirullahal ‘adzim.

Maafkan kami wahai Rasul. Maafkan kami yang belum bisa membalas cintamu. Maafkan kami yang lisan ini berat bershalawat padamu. Maafkan kami ya Rasulullah.

Ya Allah… jadikan kami hamba yang selalu mencintai-Mu dan Rasul-Mu. Izinkan kami bertemu dan menatap wajah Rasulullah. Pertemukan kami ya Allah dengan Rasulullah di Firdaus-Mu. Mudahkan kami menapaki jalan yang ditempuh Rasul-Mu. Ringankan lisan kami ya Allah dalam bershalawat pada Rasul-Mu. Ijinkan ya Allah kami minum dari telaga Kautsar di tempat Rasul-Mu menanti. 

 

Referensi:

Bulughul Maram

Shirah Nabawiyah

http://moshidiamond.blogspot.co.id

http://www.ukhtiindonesia.com

Penulis: 
Emy A.