Efek Pygmalion dalam Mengajar

  • Posted on: 23 January 2016
  • By: kontributor tkit1

Pernakah Anda mendengar efek pygmalion ? ini adalah fenomena psikologis yang pertama kali dihadirkan oleh Robert Merton, seorang profesor Sosiologi di Columbia University pada tahun 1957. Penomena ini berkaitan dengan bagaimana harapan kita terhadap orang lain dapat menciptakan prediksi yang terwujud sesuai dengan yang diharapkan.

 

Penelitian melibatkan seorang guru yang diintruksikan untuk mengajar kelas baru terdiri atas murid-murid berbakat untuk tahun ajaran berikutnya. Satu hal yang tidak diketahui guru ini adalah para murid ini telah diuji dan diadapati memilki IQ rendah. Lebih lagi, mereka mempunyai masalah perilaku.

 

Tentunya, ketika sang guru mulai mengajar, para murid mulai berperilaku buruk serta tidak belajar dan memberi respons. Namun, karena guru tersebut meyakini bahwa mereka memiliki IQ tinggi, ia berpikir bukan para murid yang bermasalah tetapi dirinya sendiri.

 

Guru tersebut mulai memikul tanggung jawab atas perilaku dan ketidaktertarikan muridnya. Barangkali cara mengajarnya terlalu membosankan dan tidak cukup merangsang untuk menarik perhatian para anak yang berbakat dan penuh tuntutan ini.

 

Maka, ia mulai melakukan eksperimen dan mengubah caranya mengajar. Guru itu menyemangati mereka, membangkitkan rasa ingin tahu mereka, serta menantang mereka dengan permainan dan aktivitas, lalu benar-benar membina mereka. Semakin ia memperlakukan mereka seperti murid-murid berbakat, semakin mereka memberi respons.

 

Pada akhir tahun ajaran, nilai akademis para murid melonjak sangat tinggi. Dan ketika diuji ulang, IQ mereka rata-rata mengalami peningkatan 20-30 point. Guru tersebut telah menciptakan murid-murid berbakat dalam arti sebenarnya ! (Pikirkan berapa banyak murid yang dianggap lamban dalam belajar atau ‘normal’ tetap berada disituasi yang tidak menyenangkan hanya karena para guru tidak menginspirasi )

 

Kisah nyata di atas pernah terjadi pada diri saya,  pertama kali saya mengajar di sebuah sekolah, saya diminta untuk datang menemui pimpinan sekolah, diajaknya saya berdiskusi tentang pengalaman saya mengajar, setelah saya selesai menceritkan pengalaman saya dalam dunia pendidikan, akhirnya pimpinan tersebut menceritakan bagaimana siswa-siswa yang akan saya ajarakan di sekolah yang nantinnya menjadi tempat mengajar saya, pimpinan itu menceritakan betapa buruknya prestasi di siswa-siswa di sekolahnya, belum lagi ditambah dengan masalah-masalah yang pernah terjadi pada mereka, mulai dari seringnya mereka berkelahi dengan teman-temanya, merokok di sekolah, membolos dan berbagai kenakalan-kenakalan pada mereka, tentu cerita ini membuat pikiran saya teracuni tentang bagaimana  pendidikan di sekolah ini, akhirnya di hari pertama saya berada di sekolah tersebut saya mendapati ruang guru yang dipenuhi oleh banyak siswa lantaran mereka sedang mendapatkan bimbingan dari gurunya, karena tempat konsultasi yang tidak mencukupi ruang gurupun akhirnya dipakai untuk menyelesaikan masalah siswa.

 

Belum lagi pembicaraan-pembicaraan guru yang mengajar di sekolah tersebut, saya mendengarkan keluhan-keluhan mereka lantaran banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh siswa-siswanya, dan pertama kali saya masuk ke kelas merekapun pikiran saya sudah memberikan label negatif pada mereka, bahwasanya mereka adalah siswa-siswa bermasalah, kondisi ini terus saja terjadi, pikiran saya terhadap para siswa begitu negatif pada saat itu, dan inipun yang terjadi pada guru-guru yang lain.

 

Sehingga dari sekian tahun berlalu prestasi sekolah yang semakin menurun, dari mulai berkurangnya siswa yang bersekolah di sekolah itu hingga nilai-nilai akademis mereka yang tidak memuaskan.

 

Ini sekali lagi berawal dari cara berpikir kita dan keyakinan yang kita miliki, berbeda dengan kisah sebelumnya bahwa guru yang diberikan keyakinan bahwa siswa-siswanya adalah anak yang berbakat maka si guru akan berusaha memberikan pengajaran yang terbaik, sekalipun siswanya belum menampakan semangat belajarnya maka si guru tadi terus memperbaiki cara mengajarnya, karena ia yakin bahwa siswanya adalah anak-anak yang berbakat, namun sebaliknya jika diawalnya kita menganggap bahwa siswa kita adalah anak-anak yang bermasalah maka cara mengajarnyapun kita akan biasa-biasa saja, karena kita meyakini apapun cara mengajar yang kita berikan tidaklah berdampak  baik buat mereka.

 

Inilah pentingnya kita selalu meyakini bahwa siswa kita adalah anak-anak berbakat dengan segala keunikannya masing-masing, ketika anak belum menampakan potensi belajarnya ini bisa jadi kita sebagai guru belum memberikan cara-cara terbaik pada saat kita mengajar, maka sangat penting untuk guru memilki positif thinking kepada setiap siswa.

 

  

Penulis: 
Riswanto Team Alif Training