Rasa yang Merindu

  • Posted on: 15 September 2018
  • By: kontributor tkit1

Kita tak saling kenal. Bertatap muka dan berbalas salam pun tak pernah. Namun, ada rasa yg begitu  menggebu. Menyeruak dan ingin merengkuhnya. 

Rasa ini begitu dalam. Bukan karena ia saudara sedarah. Bukan pula kerabat dan tetangga dekat. Rasa ini membawa pada satu rasa yang tak pernah ternilai. Hatta itu dengan perhiasan dunia termahal di zaman milenial sekarang. Rasa itu ada karena iman.  Rasa itu bernama ukhuwah. 

Ya, nama yg tak asing di telinga terutama bagi yg mengaku muslim. Rasa  bernama ukhuwah, butuh yang namanya bukti. Bukan sekedar retorika  tanpa makna. Apalagi janji manis untuk menarik simpati belaka. 

Tiga ratus abad lalu, manusia pilihan-Nya telah memberi teladan dalam berukhuwah. Memberi tanpa mengharap. Berdiam dalam doa. Tak menginginkan satu kecelakaan pun bagi saudaranya.  Bahkan dalam detik-detik akhir kehidupannya senantiasa bermunajat bagi saudara yang tak pernah dikenalnya. Dialah Nabi Muhammad saw. 

Rasa itu, membawa pada lubuk hati yg merindu. Rindu pada-Nya.  Rindu kasih dan sayang-Nya.  Rindu belayan-Nya dalam gelapnya tenda pengungsian. 

Gempa Lombok, membuat rasa itu menyembur kuat. Setiap jiwa berlomba menunjukkan empatinya. Uluran tangan, tenaga,  harta,  dan jiwa terus mengalir. Mencoba membasahi hati yg kering dengan kepedihan. 

Gempa Lombok, mengingatkan kembali pada arti sebuah kesabaran dan kesyukuran. Sabar meniti ketaatan pada-Nya di tengah gelombang keterpurukan.  Sabar atas ujian-Nya. Serta sabar dalam merantai keinginan syahwat dunia. Sabar menjaga hati yang setiap saat bisa terluka. 

Hanya pada-Nya kita berpasrah. Semua sudah menjadi suratan taqdir-Nya. Di tengah duka, rasa syukur juga harus dilantunkan. Betapa tidak? Allah Al Khaliq masih memberikan kita nafas untuk kembali pada-Nya. Untaian doa terbaik yang bisa dilantunkan dalam keheningan malam untuk mengetuk pintu-pintu rahmat dan ampunan-Nya.

Mari bersama membangun Lombok. Bangkit dari keterpurukan.  Pasrahkan jiwa hanya pada-Nya. Lepaskan segala keangkuhan. Saling bergandengan tangan. Bersinergi membangun kembali Pulau Seribu Masjid. Saling menguatkan agar rasa yang bernama ukhuwah selalu bersemi dalam dekapan cinta karena-Nya. 

Penulis: 
Emy